Jakarta...
Ibu kota negaraku tercinta, Indonesia. Jakarta, kota metropolitan, kota yang tidak pernah tertidur. Aktifitas penduduknya terus berjalan 24 jam sehari. Tak pernah kota tercinta ini tertidur. Kosong. Jakarta selalu ramai. Kemacetan terjadi dimana-mana akibat kepadatan penduduk Jakarta yang kian meningkat. Penduduk yang tidak tertib. Penduduk yang tidak peduli. Pernahkah engkau mengeluh keributan selalu terjadi setiap saatnya?
Jakarta...
Yang dulu hanya hamparan tanah lapang. Tanah kosong tak ada yang memiliki. Tanah kosong atau hutan yang ditumbuhi jutaan pohon. Jutaan hasil bumi yang telah memperkaya Indonesia. Tapi kini... Jutaan hasil bumi itu sudah tiada. Jutaan hasil bumi itu telah hilang dan tergantikan. Tergantikan oleh jutaan gedung pencakar langit. Jutaan gedung megah gemerlapan. Jutaan gedung yang mewarnai Jakarta saat ini. Pernahkah engkau mengeluh akan hal ini?
Jakarta...
Kota tua penuh sejarah. Kota tua sebagai saksi bisu kemerdekaan Indonesia. Saksi bisu kekejaman penjajah. Kota tua ini telah banyak dirusak oleh manusia. Kota yang telah hancur oleh manusia. Kota tua penuh kenangan, kini sudahlah berubah. Pernahkah engkau mengeluh akan kekejaman kami?
Jakarta...
Kota yang penuh sesak dengan jutaan manusia. Manusia tidak memiliki hati. Manusia yang merusak lingkungan Jakarta. Manusia yang telah membuang sampah dimanapun ia berada. Manusia yang menggunakan kendaraan pribadi sedemikian banyak, yang membuat polusi di kota ini kian meningkat. Sehingga menjadikan Jakarta kota terpolusi kedua di dunia, setelah Mexico. Jutaan manusia perokok menyebabkan polusi ini. Jutaan kendaraan bermotor menyebabkan hal ini. Pernahkan engkau mengeluh atas polusi ini?
Jakarta...
Engkaulah tumpuan hidup kami. Di sinilah kami hidup dan bertempat tinggal. Di sinilah tempat kami mencari nafkah. Di sinilah tempat hidup kami. Di Jakartalah kami hidup bertumbuh kian besar. Dari saat diriku kecil, hingga dewasa. Keramaian Jakarta selalu menemaniku. Jutaan tawa dan canda telah terjadi di sini. Begitupula jutaan rasa sedih dan kecewa. Semua bercampur menjadi satu kota. Jakartaku tercinta.
--DIRGAHAYU KOTA JAKARTA--

0 komentar:
Posting Komentar